

transformasi
Presentation
•
Mathematics
•
9th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
Raddin Nur Shinta
FREE Resource
28 Slides • 0 Questions
1
2
MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN
MATA PELAJARAN
MATEMATIKA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
DAN PENGEMBANGAN SOAL
KELOMPOK KOMPETENSI G
PROFESIONAL:
GEOMETRI 2
Penulis:
AL Krismanto, M.Sc, kristemulawak@yahoo.co.id
Drs. Murdanu, M.Pd., danubengkel@yahoo.co.id
Marfuah, S.Si., M.T, marfuah@p4tkmatematika.org
Hanan Windro Sasongko, S.Si., M.Pd., hananwindro@gmail.com
Penelaah:
Dr. Abdurrahman As’ari, M.Pd., M.A., abdur.rahman.fmipa@um.ac.id
Dr. Sumardyono, M.Pd., matematikasejak2014@gmail.com
Desain Grafis dan Ilustrasi:
Tim Desain Grafis
Copyright © 2017
Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial
tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan
3
13
Matematika SMP KK G
Kegiatan Pembelajaran 1
Transformasi Geometri
A.Tujuan
Setelah mempelajari, melakukan aktivitas, dan mengerjakan tugas dalam modul ini
baik secara mandiri maupun kelompok, Anda diharapkan mampu mengidentifikasi
macam transformasi geometri pada suatu pernyataan geometris dengan memahami
konsep transformasi geometris yang berkaitan dengan simetri dan transformasi
yang mencakup refleksi (pencerminan), translasi (pergeseran), rotasi (perputaran),
dan dilatasi (perkalian; perkalian bangun), dan menerapkan prinsip-prinsip
transformasi dalam memecahkan permasalahan nyata.
B.Indikator Pencapaian Kompetensi
Setelah membaca dan mengikuti serangkaian kegiatan pada bagian ini, pembaca
diharapkan mampu:
1.menjelaskan jenis dan sifat transformasi bidang
2.menjelaskan dan menentukan simetri kaitannya dengan transformasi
3.menerapkan prinsip-prinsip transformasi (dilatasi, translasi, pencerminan,
rotasi) dalam menyelesaikan permasalahan nyata.
C.Uraian Materi
1.Pengertian Transformasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia salah satu arti transformasi adalah
perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya). Dalam biologi, transformasi
dapat berupa metamorphosis, misalnya siklus perubahan bentuk dan penampilan
dari telur menjadi kupu-kupu.
4
14
Kegiatan Pembelajaran 1
Gambar 4. Contoh transformasi di alam
Dalam matematika, misalnya The Concise Oxford Dictionary of Mathematics
menuliskan “Let S be the set of points in the plane. A transformation of the plane is a
*one-to-one mapping from S to S” (Clapham & Nicholson, 1996). Dengan kata lain,
transformasi bidang adalah suatu pemetaan satu-satu pada sebuah bidang.
Khususnya dalam geometri datar, transformasi dapat berupa pergeseran,
perputaran, pencerminan, perkalian bangun dan beberapa jenis perubahan lainnya
yang tidak dibahas di sini.
Ketika kereta api melintasi jembatan lurus, setiap bagian bahkan setiap titik yang
ada di kereta api berpindah dengan jarak dan arah yang sama. Pemindahan itu
dilakukan dengan arah dan jarak tertentu. Ini merupakan suatu jenis transformasi
yang disebut translasi atau pergeseran.
Selain “perubahan letak” ke arah lurus, ada yang dikenal sebagai rotasi
(perputaran), misalnya berputarnya baling-baling pada pesawat terbang yang
berputar pada porosnya (pusat rotasi). Setiap bagian baling-baling berputar ke arah
sama dan setiap kali menempuh sudut putar yang sama besar. Demikian pula pada
saat kita bercermin (dengan cermin datar). Akan selalu ditemukan bahwa setiap
bagian (titik) pada bayangan atau bangun hasil dan bagian (titik) asalnya
berkorespondensi satu-satu. Artinya, bayangan suatu titik hanya berasal dari
sebuah titik tertentu. Demikian pula sebuah titik tertentu menghasilkan hanya
sebuah titik tertentu sebagai bayangannya. Pemetaan bijektif demikian merupakan
transformasi yang disebut pencerminan (refleksi). Di samping itu ketika seseorang
memperbesar atau memperkecil foto, maka disitulah terjadi transformasi yang
dikenal dengan dilatasi.
5
15
Matematika SMP KK G
2.Pergeseran (Translasi)
a.Pengertian Translasi
Pergeseran atau translasi terjadi jika setiap titik pada bidang datar “berpindah”
dengan jarak dan arah tertentu. Dengan demikian, setiap bangun yang terletak
pada bidang itu juga digeser dengan jarak dan arah tertentu.
Gambar 5. Translasi
Dapat dikatakan pula bahwa translasi adalah pemetaan satu-satu pada sebuah
bidang dengan sifat bahwa untuk setiap titik T pada bidang tersebut jarak dan
arah dari titik asal T ke titik hasilnya (T′) sama.
Pada Gambar 5:
'
11TT║'
22TT║
'
33TT
║
'
44TT…
dan T1 T1′ = T2 T2′ = T3 T3′ = T4 T4′ = …
Translasi adalah transformasi isometri. Dalam translasi, bangun hasil kongruen
(sama dan sebangun) dengan bangun asal. Semua garis yang sejajar dengan
arah translasi invarian (tidak terpengaruh, tidak berubah) terhadap translasi.
b.Translasi dalam bidang koordinat
Perhatikan gambar berikut ini!
Gambar 6. Translasi
T1
T2
T3
T4
T4′
T1′
T2′
T3′
T1
T2
T3
T4
T5
T6
T7
T8
T9
T10
6
16
Kegiatan Pembelajaran 1
Gambar 6 menunjukkan T1, T2, T3, … T10, ruas-ruas garis berarah yang mewakili
atau menggambarkan geseran atau translasi yang sama besarnya yaitu 5
satuan, dengan arah yang tidak semuanya sama.
Jika sebuah titik A(x, y) ditranslasikan dengan G = �𝒂
𝒃�, maka titik hasilnya
adalah titik A′(x + a, y + b)
Atau dilambangkan dengan A(x, y)
𝐺=�𝑎
𝑏�
�⎯⎯⎯�A′(x + a, y + b). Lihat Gambar 7!
Gambar 7. Translasi A ke A’
Contoh:
Jajargenjang PQRS dengan P(0, 2),
Q(1, 4), R(−2, 4), dan S(−3, 2)
ditranslasikan
dengan
G= �6
2� .
Hasilnya ialah jajargenjang dengan
P′(6, 4),
Q′(7, 6),
R′(4, 6)
dan
S’(3, 4).
Gambar 8. Translasi jajargenjang
Dapat dilihat bahwa:
Titik hasil (6, 4) berasal dari
(0 +6, 2 + 2)
(7, 6) berasal dari
(1 +6, 4 + 2)
(4, 6) berasal dari
(−2 +6, 4 + 2)
(3, 4) berasal dari
(−3 +6, 2 + 2)
Y
X
O
a
b
x
x
y
x + a
�𝑎
𝑏�
A(x, y)
A′(x+a, y+b)
y + b
P′(6, 4)
P(0, 2)
Q(1, 4)
R(−2, 4)
S(−3, 2)
Q′(7, 6)
R′(4, 6)
S′(3, 4)
Y
O
7
17
Matematika SMP KK G
c.Dua Translasi Berurutan
Jika terdapat dua translasi yang berurutan G1 = �𝑎
𝑏� dilanjutkan dengan G2 = �𝑐
𝑑�,
maka komposisi kedua translasi dapat diwakili oleh sebuah translasi baru
G =�𝑎 + 𝑐
𝑏 + 𝑑�.
Gambar 9. Translasi berurutan
Contoh.
Diketahui translasi G1 = �−3
4 � dan translasi G2 = �7
3�. Translasi G1 dilanjutkan
dengan G2 dilambangkan dengan G2 o G1.
G2 o G1 = �−3 + 7
4 + 3 � = �4
7�
Hasil translasi titik A(2, −2) oleh G = G2 o G1 dapat diperoleh dari (G2 o G1)(A)
atau G(A).
(G2 o G1)(A) = (G2 (G1 (A)) = G2 (2 + (−3), −2 + 4)
= G2 (−1 , 2) …………………….. = G2 (B)
= (−1 + 7 , 2 + 3)
= (6, 5) ………………………….titik C
atau secara langsung:
G(A) = (2 + 4, − 2 + 7)
= (6, 5)
�𝑎
𝑏�
�𝑐
𝑑�
.b
.a
.b+d
.c
.d
.a + c
Y
X
O
A(2, −2)
B(−1, 2)
C(6, 5)
�−3
4�
�7
3�
�4
7�
8
18
Kegiatan Pembelajaran 1
d.Translasi dalam kehidupan sehari-hari
Penerbangan dengan pesawat penumpang dalam cuaca bagus sepanjang
kecepatan yang stabil (dengan idealisasi pesawat tidak melakukan perubahan
arah dan ketinggian) merupakan salah satu contoh translasi dari semua titik
dalam pesawat tersebut. Translasi juga banyak dijumpai antara lain dalam karya
budaya Indonesia, misalnya batik dan ukir-ukiran. Banyak bangun-bangun
pembentuk kain batik dan ukiran diperoleh secara translasi.
Contoh:
Gambar 10. Contoh Terapan Translasi
3.Perputaran (Rotasi)
a.Pengertian Rotasi
Rotasi atau perputaran pada sebuah bidang datar ditentukan oleh:
titik pusat rotasi
arah rotasi
besar sudut rotasi.
Arah putaran searah dengan arah putar jarum jam disepakati sebagai arah
negatif, sedangkan yang berlawanan dengan arah putar jarum jam adalah arah
putar positif.
Rotasi sebesar α terhadap titik P adalah pemetaan yang memetakan titik T pada
sebuah bidang dengan titik T′ pada bidang tersebut, sehingga untuk setiap titik
T dan titik hasil atau bayangannya (T′) berlaku m∠TPT′ = α.
9
19
Matematika SMP KK G
Gambar 11(i) menunjukkan putaran satu titik T berpusat di titik P sebesar
α. PT′= PT. Gambar 11(ii) menunjukkan putaran sebuah bangun datar berpusat
di titik P sebesar α. PA′= PA dan α. PB′= PB; m∠APA′= m∠ DPD′ = α.
Gambar 11. Rotasi
b.Sifat Rotasi
Berikut beberapa sifat rotasi.
1)Rotasi merupakan transformasi isometri.
2)Rotasi satu putaran penuh ekuivalen dengan transformasi identitas.
3)Jika garis rotasinya sebesar αmaka kedua garis membentuk sudutα.
4)Pusat putaran adalah titik invarian (titik tetap, tidak bergerak) terhadap
putaran.
5)Semua lingkaran berpusat di pusat putaran invarian terhadap putaran.
6)Putaran sebesar α dilanjutkan dengan putaran sebesar β dengan pusat P.
ekuivalen dengan putaran sebesar α + β terhadap P.
Gambar 12. Rotasi 2 Kali Berurutan
c.Putaran dengan Sudut Khusus
Putaran bersudut n× 360o (n bilangan cacah) adalah suatu transformasi
identitas. Semua titik pada bangun asal dipetakan ke dirinya sendiri.
(i)
P
α
T
T′
α
α
P
A
B
C
D
A′
B′
C′
D′
(ii)
P•
C
B
A
β
α
α+ β
10
20
Kegiatan Pembelajaran 1
Putaran bersudut putar 90o, 180o, 270o, dan 360o berturut-turut biasa disebut
dengan seperempat putaran, setengah putaran, tiga perempat putaran, dan satu
putaran penuh.
d.Simetri Putar
Suatu gambar atau bangun datar dikatakan memiliki simetri putar mengelilingi
titik O jika gambar atau bangun datar itu diputar mengelilingi O dengan sudut
positif tertentu kurang dari 360° dapat tepat menempati posisinya semula.
Pusat putaran tersebut dinamakan pusat simetri putar bangun tersebut.
Jika oleh suatu putaran suatu bangun dapat n kali (n ≥ 2, n bilangan asli) dapat
menempati bangun semula, bangun demikian dikatakan memiliki simetri putar
tingkat n.
Gambar 13. Rotasi dan Simetri Putar
Jika segitiga KLM pada Gambar 13(i) diputar kurang dari 360° dengan pusat
lingkaran luarnya sebagai pusat perputaran, maka segitiga itu tidak pernah
menempati posisi seperti posisi tersebut kecuali saat berada di posisi
semula. Berarti segitiga itu tidak memiliki simetri putar. Persegipanjang
ABCD pada Gambar 13(ii) dan Gambar 13(iii) menunjukkan dua posisi yang
sama jika diputar kurang dari 360° yaitu pada posisi awal (Gambar 13(ii)) dan
ketika putarannya 180° (Gambar 13(iii)). Dikatakan bahwa persegipanjang
memiliki simetri putar tingkat 2.
Segi-n beraturan mempunyai simetri putar tingkat n. Pusat simetri putarnya
yaitu pusat lingkaran luar dan sekaligus pusat lingkaran dalam segi-n beraturan
tersebut).
(ii)
(i)
K
L
M
C
A
D
B
P
A
C
B
D
(iii)
P
11
21
Matematika SMP KK G
Contoh:
Segitiga samasisi, segi-4 beraturan (persegi), segi-5 beraturan, dan segi-6
beraturan pada Gambar 14(i) - (iv), simetri putarnya berturut-turut tingkat 3, 4,
5, dan 6.
Gambar 14. Bangun-bangun Datar yang Memiliki Simetri Putar
e.Rotasi pada Bidang Koordinat
Pada modul ini, rotasi pada bidang koordinat hanya disajikan yang pusat
rotasinya titik asal (O) saja dan sudut-sudut khusus, karena dengan sembarang
sudut diperlukan trigonometri.
Rumus hubungan koordinat titik hasil dan titik semula, dengan pusat
perputaran titik asal koordinat (O)
PerhatikanGambar 15 di bawah ini!
Gambar 15. Rotasi pada Koordinat
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
12
22
Kegiatan Pembelajaran 1
Diperoleh hasil sebagai berikut.
1)Sudut putar 90o, maka x′ = – y dan y′ = x
2)Sudut putar – 90o atau 270o
Jika pusat putarannya O(0, 0), maka: x′ = y dan y′ = –x
3)Sudut putar 180o; maka x′ = – x dan
y′ = – y
Untuk setiap titik T(x, y) yang dirotasikan dari titik (a, b) dengan sudut putar
180° atau dilambangkan R(a,b),180°diperoleh hasil:
x′ = –x + 2a⇔x′ + x = 2a dan y′ = –y + 2b⇔ y′ + y = 2b.
Karena (a, b) adalah pusat rotasi dan ternyata bahwa (a, b) =
+′+′
22
,yyxx
,
maka hal ini menunjukkan bahwa setiap titik dan bayangannya simetris terhadap
pusat rotasi setengah putaran.Karena itu, rotasi setengah putaran sering disebut
juga sebagai pencerminan terhadap sebuah titik.
Jika di dalam sebuah bangun ada titik P sehingga untuk setiap titik T pada
bangun itu ada titik lain T′ sedemikian sehingga titik P merupakan titik tengah
'TT maka bangun itu dikatakan memiliki simetri titik. Titik P disebut titik
simetri. Persegi dan belah ketupat adalah contoh bangun yang memiliki simetri
titik.
Jadi, dengan memilih αo sama dengan sudut-sudut khusus, diperoleh antara lain
bahwa koordinat bayangan hasil rotasi titik A(x, y) terhadap titik O adalah
sebagai berikut:
i.RO,90° : A(x, y)→A′(–y, x)
ii.RO,180° : A(x, y)→A′(–x, – y)
iii.RO, 270° : A(x, y)→A′(y, – x)
Contoh 1:
Tentukan koordinat titik hasilnya jika T(4, −2) diputar: (i) 90°, (ii) 180°, dan
(iii) 270°.
13
23
Matematika SMP KK G
Jawab:
i.RO,90 : A(x, y)→A′(–y, x) maka (4, −2)→A′(−(−2), 4) atau A′(2, 4)
ii.RO,180 : A(x, y)→A′(–x, – y) maka (4, −2)→A′(−(4),−(−2)) atau A′(−4, 2)
iii.RO, 270 : A(x, y)→A′(y, – x)` maka (4, −2)→A′((−2),−(4)) atau A′(−2, −4)
Contoh 2
Bayangan ∆ABC oleh suatu rotasi adalah ∆A′B′C′dengan A′(−2, 3), B′(3,− 2), dan
C′(2, 5). Jika koordinat titik A adalah (3, 2), tentukan koordinat titik B dan C!
Jawab:
A(3, 2) ↔A′(−2, 3). Secara umum T(x, y)↔T′(−y, x). Rotasinya RO,90°. Untuk
memperoleh titik semula harus “diputar balik”, yaitu RO,−90°yang ekuivalen
dengan RO,270°: P′(x, y)→P(y, – x), sehingga B′(3,− 2) →B(−2, −3) dan C′(2, 5).
→C(5, −2)
Jadi koordinat adalah B (−2, −3) dan koordinat C adalah (5, −2).
4.Pencerminan ( Refleksi)
a.Pengertian
Refleksi atau pencerminan ditentukan oleh adanya sebuah cermin (sumbu
pencerminan).
Pencerminan sebuah bangun pada bidang
datar terhadap garis (cermin) c adalah
pemetaan
sedemikian
sehingga
untuk
setiap titik T pada bangun pada bidang
tersebut ada sebuah titik T′ di pihak lain
dari cermin tersebut yang memenuhi jarak
T ke c sama dengan jarak T′ ke c.
Gambar 16. Pencerminan
d1
d1
d2
d2
d3
d3
A
B
C
A′
B′
C′
c
14
24
Kegiatan Pembelajaran 1
b.Sifat pencerminan
Untuk setiap titik T pada bangun asal dan bayangannya yaitu T′, d
melambangkan
jarak,
dan madalah
sumbu
pencerminan,
diperoleh
hubungannya dTke m = dT′ ke m .
Bangun asal dan bangun hasil terletak simetris terhadap sumbu pencerminan.
Setiap titik pada cermin invarian (tidak berubah) oleh adanya pencerminan.
Setiap garis yang tegak lurus cermin invarian terhadap pencerminan.
Pencerminan bersifat isometris (berukuran tetap/sama). Bangun hasil
(bayangan) kongruen dengan bangun asalnya.
Pencerminan merupakan transformasi “pembalikan” bidang. Orientasi bangun
asal dan bangun hasilnya saling berlawanan. Perhatikan urutan ABC-nya pada
Gambar 16 di atas!
c.Komposisi Refleksi
Dua refleksi atau lebih dapat dikomposisikan. Refleksi terhadap cermin c1
dilanjutkan dengan refleksi terhadap cermin c2 yang dikenakan pada suatu titik
T dapat dilambangkan dengan (c2 ○ c1)(T). Mungkin c2║c1, tetapi mungkin juga
c2 dan c1 berpotongan membentuk sudut tertentu misalnya α.
1)Komposisi refleksi terhadap c2 ○ c1dengan c2║c1
Suatu pencerminan terhadap sumbu m1 dilanjutkan dengan pencerminan
terhadap c2 yang berjarak d dari c1dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 17. Pencerminan Dua Kali dengan Sumbu Sejajar
Gambar 17 menunjukkan “gambar wajah” paling kiri dicerminkan terhadap c1
dan bayangannya pada gambar tengah dicerminkan lagi terhadap cermin c2 yang
sejajar c1. Jarak antara kedua cermin d.
c1
c2
a
a
b
b
d
15
25
Matematika SMP KK G
2)Komposisi refleksi terhadap c2 ○ c1dengan c2 dan c1 berpotongan di P.
Komposisi refleksi titik A terhadap c2 ○ c1 hasilnya sebagai berikut.
Gambar 18. Pencerminan Dua Kali dengan Sumbu Berpotongan
Titik A dicerminkan terhadap c1 menghasilkan titik A1.
∆ABP ≅∆A1BP , karena
AB = A1B (sifat pencerminan)
m∠ABP = m∠A1BP (siku-siku)
BP = BP (sekutu)
Akibatnya: m∠APB = m∠ A1PB. Namakan α1 ........................(1)
Juga: AP = A1P ...…………...................(2)
Titik A1 dicerminkan terhadap c2 menghasilkan titik A2. ∆A1CP ≅∆A2CP karena
A1C = A2C (sifat pencerminan)
m∠ A1CP = m∠ A2CP (siku-siku)
CP = BP (sekutu)
Akibatnya: m∠A1PC = m∠A2PC. Namakan α2 ........................(3)
Juga: A1P = A2P ...................................……………........ (4)
Dari (1) dan (3): m∠BPC = m∠ A1PB + m∠A1PC = α1 + α2
m∠APA2 = m∠APB + m∠ A1PB + m∠A1PC + m∠A2PC
= α1 + α1 + α2 + α2 = 2(α1 + α2)
Dari (2) dan (4): AP = A1P dan A1P = A2P.
P
A
A1
A2
c1
.c2
α1
α2
α2
α1
B
C
16
26
Kegiatan Pembelajaran 1
Berarti AP = A1P = A2P atau A, A1,dan A2 terletak pada satu lingkaran berpusat
di P.
Jadi, pencerminan berturut-turut terhadap dua sumbu yang berpotongan
dengan sudut αdi titik P ekuivalen dengan suatu putaran berpusat di titikP
dengan sudut putar sebesar 2α dengan arah putar sesuai dari cermin
pertama (c1) ke cermin kedua (c2).
d.Sumbu Simetri dan Simetri Sumbu
Jika pada sebuah bangun datar ada garis yang letaknya sedemikian sehingga
bagian bangun yang satu di satu pihak dan bagian lain di pihak lainnya simetris
terhadap garis tersebut, maka garis tersebut dinamakan sumbu simetri bangun
datar tersebut. Sifat simetri bangunnya adalah simetri sumbu.
Dalam biologi sering terjadi simetrinya “tidak sempurna” seperti yang
terdefinisi secara matematis, namun kesimetriannya masih diterima dalam
pandangan keseharian seperti gambar berikut.
Gambar 19. Contoh Simetri di Alam
Setiap segi-n beraturan memiliki n buah sumbu simetri. Semua sumbu simetri
segi-n beraturan berpotongan pada sebuah titik yang merupakan pusat
lingkaran luar dan pusat lingkaran dalam segi-n beraturan tersebut.
Gambar 20. Sumbu Simetri pada Polygon Beraturan
17
27
Matematika SMP KK G
Jika sebuah gambar atau bangun datar mempunyai sumbu simetri s maka
dengan melipat gambar itu sepanjang s, kedua bagian sebelah-menyebelah s
akan saling menutup karena kedua bagian bangun kongruen. Karena itu, simetri
sumbu juga dikenal sebagai simetri lipat.
e.Pencerminan dalam Bidang Koordinat
Sebarang garis dapat digunakan sebagai sumbu pencerminan. Namun untuk
kemiringan yang sudutnya tidak khusus, untuk membahasnya memerlukan
trigonometri. Karena itu, yang dibahas di sini hanya sumbu-sumbu khusus yaitu
sumbu koordinat, garis bagi kuadran I-III yang persamaannya y = x, garis bagi
kuadran II-IV yang persamaannya y = −x, dan garis-garis yang sejajar sumbu-X
serta garis-garis sejajar sumbu-Y.
Gambar 21. Pencerminan di Bidang Koordinat
Gambar 21(i):
CX = Refleksi terhadap sumbu-X :
A(x, y) →A′(x, –y)
atau
A(x, y)
𝐶𝑋��A’(x, –y)
CY= Refleksi terhadap sumbu-Y :
A(x, y) →A′(–x, y)
atau
A(x, y)
𝐶𝑌��A’(–x, y)
Gambar 21(ii):
Cy=x = Refleksi terhadap garis y = x: A(x, y) →A′(y, x)
atau
A(x, y)
𝐶𝑦=𝑥�⎯�A’(y, x)
Cy=–x= Refleksi terhadap garis y = – x : A(x, y) →A′( –y, –x)
atau
A(x, y)𝐶𝑦=−𝑥�⎯⎯�A’(−y, −x)
A(x, y)
A′(x, – y)
A′′(–x, y)
Y
X
O
(i)
(ii)
(iii)
A(x, y)
X
Y
O
A′(y, x)
A′′(–y,– x)
A′(x, 2h– y)
A′′((2 v –x, y)
y = h
A′(x, y)
x = v
X
Y
O
X
Y
O
A′′((2 v –x, y)
v –x v –x
h –y
h –y
y = x
y = −x
18
28
Kegiatan Pembelajaran 1
Gambar 21(iii):
Refleksi terhadap garis y = h; h∈R: A(x, y) →A′(x, 2h –y)
atau
A(x, y)𝐶𝑦=ℎ�⎯⎯�A’(x, 2h− y)
Refleksi terhadap garis x = v; v∈R: A(x, y) →A′(2v –x, y)
atau
A(x, y)𝐶𝑥=𝑣�⎯�A’(2v− x, y)
Catatan: Pencerminan yang dilambangkan dengan A(x, y)
𝐶𝑦=𝑥�⎯�A’(y, x) sering juga
dilambangkan dengan A(x, y)
𝑀𝑦=𝑥�⎯⎯�A’(y, x). (C = Cermin, M = Mirror).
Demikian juga yang serupa dengan itu.
Contoh.
Tentukan titik hasil pencerminan titik (5, 6) terhadap:
(i) sumbu X (ii) garis y = x (iii) garis x = 3
(iv) garis y = 2
Jawab:
(i) CX : (x, y) → (x, –y), maka (5, 6) → (5, − 6)
(ii) Cy = x : (x, y) → (x, –y), maka (5, 6) → (6, 5)
(iii) Cx = v : (x, y) → (2v −x, y), maka (5, 6) →(2 × 3 − 5, 6) atau (1, 6)
(iv) Cy = h : (x, y) → (x. 2h− y), maka (4, 5) → (5, 2 × 2 − 6) atau (5, −2)
5.Dilatasi
a.Pengertian
Diketahui sebuah titik P pada sebuah bidang datar H dan sebuah bilangan real k
(k≠0). Bangun hasildilatasi titik A pada bidang H adalah titik A′ pada
↔
PA
sedemikian sehingga P, A, dan A’ kolinear (segaris) dengan PA′ = |k| ×PA.
Titik P dinamakan pusat dilatasi dan k dinamakan faktor dilatasi. Dilatasi
dengan pusat dilatasi P dan faktor skala k dilambangkan dengan [P, k].
19
29
Matematika SMP KK G
Gambar 22. Dilatasi
Jika k < 0, maka titik P′ pada
→
AP (terhadap P, titik A dan A′ berlainan pihak)
Jika k > 0, maka titik P′ pada
→
PA (terhadap P, titik A dan A′ sepihak)
Untuk k = 1, maka dilatasinya merupakan transformasi identitas. Bangun hasil
adalah juga bangun asalnya.
Pada Gambar 22 di atas, PA′ = 3 PA, PB′ = 3 PB, dan PC’ = 3 PC. Faktor skala = 3.
Adapun PA′′, PB′′, dan PC′′ berturut-turut panjangnya 2PA, 2PB, dan 2PC, namun
terhadap pusat dilatasi bayangan berada di pihak lain dari bangun asalnya.
Faktor skalanya adalah –2.
Bangun A′B′C′ adalah bangun hasil dilatasi [P, 3] dari ABC;
→
'PA = 3
→
PA
Bangun A′′B′′C′′ adalah bangun hasil dilatasi [P, –2] dari ABC; '
→
PA = –2
→
PA
Dalam praktik, untuk memperbesar atau memperkecil gambar digunakan
pantograph seperti gambar berikut
Gambar 23. Pantograph
A′
P
B
A
C
C′
B′
A′′
C′′
B′′
20
30
Kegiatan Pembelajaran 1
b.Sifat Dilatasi
Berikut ini beberapa sifat dilatasi.
1)Dilatasi adalah transformasi similaritas (kesebangunan). Bangun hasil
sebangun bangun asal. Setiap ruas garis bangun hasil sejajar dengan bangun
asalnya.
2)Semua garis melalui pusat dilatasi invarian terhadap sebarang dilatasi (k≠0).
3)Dilatasi tidak mengubah orientasi (arah).
4)Jika |k | > 1, bangun hasil diperbesar dari ukuran semula; jika | k | < 1 bangun
hasilnya diperkecil.
Dengan diperbesar atau diperkecilnya bangun hasil dari bangun asalnya
menunjukkan bahwa dilatasi bukan transformasi isometri.
c.Dilatasi Dalam Bidang Koordinat
Pada Gambar 24 ditunjukkan DO,k: titik A(x, y) →A′(kx, ky). Keterangannya dapat
dinyatakan dengan koordinat titik-titik sudut bangun hasil dibandingkan dengan
koordinat titik-titik sudut bangun asalnya.
Titik Asal
k = 3
k = −2
A(2, 0)
A′(6, 0)
A′′(−4, 0)
B(5, −2)
B′(15, −6)
B′′(−10, 4)
C(5, 1)
C′(15, 3)
C′′(−10, −2)
D(4, 2)
D′(12, 6)
D′′(−8, −4)
Gambar 24. Dilatasi Bangun ABCD
Y
O
X
A
B
C
D
D′
C′
B′
A′
A′′
B′′
C′′
D′′
21
31
Matematika SMP KK G
Dalam pembelajaran transformasi, nilai-nilai karakter positif dapat disisipkan
dalam pembelajaran. Misalnya siswa dapat dilatih konsisten dalam penamaan
titik, contohnya titik A ditranslasikan menjadi A’ sehingga siswa tidak
kebingungan. Nilai karakter mencintai budaya dapat pula dikembangkan dengan
memberikan contoh-contoh menggunakan batik motif daerah tertentu,
bangunan candi, dan sebagainya. Juga nilai religius dapat ditanamkan dengan
menghargai karya ciptaan Tuhan misalnya bentuk simetris dari kupu-kupu.
Masih banyak nilai-nilai karakter lainnya yang dapat dikembangkan melalui
pembelajaran transformasi geometri ini.
D.Aktivitas Pembelajaran
Pelajarilah uraian materi dengan seksama dan diskusikan Lembar kegiatan berikut
secara kelompok (3 – 5 orang)! Apabila ada masalah diskusikanlah dengan rekan
sejawat!
Aktivitas 1.1.
LEMBAR KEGIATAN (LK) 1.1.
(TRANSFORMASI GEOMETRI)
Tujuan:
menerapkan prinsip-prinsip
transformasi refleksi, translasi, rotasi,
serta dilatasi dalam memecahkan
permasalahan nyata
Identitas/Kode Kelompok:
......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
1.Carilah penggunaan istilah transformasi di luar matematika! Berikan contohnya
masing-masing yang terkait dengan translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi!
22
32
Kegiatan Pembelajaran 1
2.Carilah gambar-gambar dari motif-motif batik atau ukiran atau hasil budaya
Indonesia lainnya yang memuat translasi!
3.Kumpulan “6 ekor burung” pada gambar pertama di bawah ini menunjukkan
suatu pengubinan. Tak ada celah di antara keenam “burung”.
a.Apakah yang Anda ketahui tentang sifat simetri Gambar (i)?
Apakah setiap 6 gambar burung yang kongruen selalu dapat disusun
seperti gambar pertama? Jelaskan!
b.Gambar (ii) adalah pengubinan menggunakan gambar pertama
(diperkecil). Untuk gambar kedua sebagai satu bangun, berikan
penjelasan tentang sifat simetrinya dan selidiki adakah transformasi
lain selain rotasi!
(i)
(ii)
23
33
Matematika SMP KK G
4.Banyak makhluk hidup yang jika diambil gambarnya dengan arah tertentu
hasilnya adalah gambar yang memiliki simetri sumbu. Pada gambar berikut,
kupu-kupu dan motif batik juga memiliki sifat dimilikinya simetri sumbu.
Kumpulkan paling sedikit 5 (lima) gambar berbeda dari makhluk hidup yang
gambarnya memiliki sifat adanya simetri sumbu.
5.Pada kertas berpetak, gambarlah sebuah bangun datar. Pilih sebuah titik di
dalam bangun itu sebagai pusat dilatasi dan dilatasikan gambar itu dengan
faktor skala ½ , 2, dan 3!
24
34
Kegiatan Pembelajaran 1
Aktivitas 1.2.
LEMBAR KEGIATAN (LK) 1.2.
(PENYUSUNAN SOAL PENILAIAN BERBASIS KELAS)
Tujuan:
mampu menyusun soal penilaian
berbasis kelas bagi siswa untuk
mengembangkan HOTS (Higher Order
Thinking Skills) terkait materi
Transformasi Geometri berdasarkan
Kisi-kisi pada lampiran
Identitas/Kode Kelompok:
......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
1.Bacalah bahan bacaan berupa Modul Pengembangan Penilaian di Modul
Penilaian 2 dan Pemanfaatan Media untuk Profesionalisme Guru, Kelompok
Kompetensi H (Pedagogik)!
2.Pelajari kisi-kisi yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan seperti pada lampiran!
3.Berdasarkan kisi-kisi tersebut, secara mandiri, kembangkanlah tiga (3) soal
pilihan ganda dan tiga (3) soal uraian yang bertipe soal HOTS pada lingkup
materi yang dipelajari pada modul ini sesuai format kartu soal berikut!
KARTU SOAL
Jenjang
: Sekolah Menengah Pertama
Mata Pelajaran
: Matematika
Kelas
:
Materi
: Transformasi Geometri
Kompetensi Dasar
:
Indikator Soal
:
Level
: Pengetahuan dan Pemahaman/Aplikasi/Penalaran *)
Bentuk Soal
: Pilihan Ganda/Uraian *)
BAGIAN SOAL DI SINI
Kunci Jawaban/Rubrik Penilaian *)
:
*) coret yang tidak perlu
25
35
Matematika SMP KK G
E.Latihan/Kasus/Tugas
1.Periksalah transformasi apa yang memetakan bangun satu ke lainnya dari yang
berikut ini!
a.A ke B
e. E ke F
b.B ke C
f. A ke C
c.C ke D
g. B ke D
d.D ke E
h. F ke A
2.Gambarlah segitiga ABC dan bayangannya jika diketahui titik sudutnya adalah
titik-titik A(5, −1), B(−3, 2), dan C(−2, −1) oleh translasi
−
3
2
3.Titik (12,−6) adalah peta (a, b) oleh pergeseran
−
8
10. Tentukan a + b.
4.Oleh geseran G titik (2,−5) dipetakan ke titik (−1, 8). Tentukanlah peta titik
(5, −7) oleh G!
5.Tentukan hasil transformasi berikut:
a.rotasi 90° titik (–2, 3) mengelilingi titik O(0, 0)
b.rotasi 270° titik (–2, 3) mengelilingi titik O(0, 0).
6.Oleh suatu rotasi berpusat di O(0, 0), titik (3,−4) dipetakan ke titik (4, 3).
Tentukan bayangan (–2, 5) oleh rotasi itu!
7.Oleh suatu rotasi sebesar α rad berpusat di O(0, 0), titik (3, 4) dipetakan ke titik
(−4,3). Manakah titik hasil (−2, 5) oleh rotasi sebesar (π +α) rad?
8.Tentukan hasil transformasi berikut:
a.titik A (5, −4) direfleksikan terhadap garis x = 2
b.titik A (−4, 5) direfleksikan terhadap garis y = 3
c.titik A (−1, 4) direfleksikan terhadap garis x = 2 dilanjutkan terhadap
garis x = 6
d.titik A (−1, 4) direfleksikan terhadap garis x = 2 dilanjutkan terhadap
garis y = 3.
E
F
X
Y
O
26
36
Kegiatan Pembelajaran 1
9.Tentukan persamaan garis hasil pencerminan garis 2x + y− 4 = 0 terhadap
sumbu X!
10.Titik A′(6, −12) adalah titik hasil dilatasi pada O dari titik A(−3, 6). Tentukanlah
bayangan titik B(−1, 2) dan C(4, −3) oleh dilatasi tersebut!
F.Rangkuman
Transformasi geometris dapat mengubah posisi setiap titik suatu objek geometris
dengan memindah (translasi), mencerminkan (refleksi), memutar (rotasi), atau
memperkecil/memperbesar (dilatasi). Posisi setiap titik pada objek hasil
transformasi dapat dianalisis menggunakan koordinat, yaitu dengan meletakkan
objek dan gerakannya pada bidang koordinat. Translasi, refleksi, dan rotasi tidak
mengubah ukuran dan bentuk objek (kongruen), sementara dilatasi tidak mengubah
bentuk tetapi mengubah ukuran (sebangun). Translasi dan dilatasi positif tidak
mengubah arah pada objek geometri.
G.Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Periksalah pemahaman Anda dengan materi yang disajikan dalam modul ini, serta
hasil pengerjaan aktivitas pembelajaran dan latihan/tugas dengan kunci jawaban.
Untuk membantu dalam mengevaluasi hasil pengerjaan aktivitas pembelajaran,
berikut petunjuk pengerjaannya.
Pada LK 1.1. nomor 1, 2, dan 4, Anda dapat menghubungkan transformasi dengan
kehidupan sehari-hari. Selain itu, Anda dapat memperkaya informasi dari internet.
Pada LK 1.1. nomor 3(i), Anda dapat mencermati Gambar 8 pada uraian materi dan
menyimpulkan apakah setiap bangun yang kongruen jika dirotasikan selalu dapat
disusun seperti Gambar 8(i). Adakah syarat agar bangun yang kongruen selalu dapat
disusun seperti Gambar 8(i)? Untuk nomor 3(ii), Anda dapat melihat gambar
kumpulan burung secara satu kesatuan atau satu persatu.
27
37
Matematika SMP KK G
Pada LK 1.1. nomor 5, Anda dapat menjelaskannya secara geometris sekaligus
secara aljabar untuk memudahkan penyelesaiannya! Gunakan DO,k: A(x, y) →A′(kx,
ky) dengan k adalah faktor skala!
Adapun untuk mengerjakan aktivitas 1.2., Anda diminta terlebih dahulu
mempelajari Modul Pengembangan Penilaian di Modul Penilaian 2 dan Pemanfaatan
Media untuk Profesionalisme Guru, Kelompok Kompetensi H (Pedagogik) terkait
pengembangan soal HOTS dan mencermati kisi-kisi pada lampiran terkait lingkup
kompetensi terkait transformasi geometri.
Jika Anda dapat memahami sebagian besar materi dan dapat menjawab sebagian
besar latihan/tugas, maka Anda dapat dianggap menguasai kompetensi yang
diharapkan. Namun jika tidak atau Anda merasa masih belum optimal, silakan
pelajari kembali dan diskusikan dengan teman sejawat untuk memantapkan
pemahaman dan memperoleh kompetensi yang diharapkan. Setelah Anda telah
dapat menguasai kompetensi pada kegiatan pembelajaran ini, silakan lanjut pada
kegiatan pembelajaran berikutnya.
28
38
Kegiatan Pembelajaran 1
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 28
SLIDE
Similar Resources on Wayground
23 questions
Algebra 1: Algebraic Properties
Presentation
•
9th Grade
21 questions
Simplifying radicals
Presentation
•
9th Grade
19 questions
Solving Exponential Equations
Presentation
•
9th Grade
21 questions
Right Triangle Trig Lesson
Presentation
•
9th - 10th Grade
22 questions
Introduction to Relations and Functions
Presentation
•
9th Grade
20 questions
Triângulos Semelhantes
Presentation
•
9th Grade
20 questions
Factoring a>1
Presentation
•
9th Grade
20 questions
Vertex Form of a Quadratic
Presentation
•
9th Grade
Popular Resources on Wayground
10 questions
HCS SCI 03 Summer School Review 4
Quiz
•
3rd Grade
11 questions
HSMS - Standard Response Protocol
Quiz
•
6th - 8th Grade
16 questions
1.1-1.2 Quiz Review
Quiz
•
9th - 12th Grade
12 questions
Exponent Expressions
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Adding and Subtracting Integers
Quiz
•
6th - 7th Grade
11 questions
Northeast States
Quiz
•
3rd - 4th Grade
10 questions
Characterization
Quiz
•
3rd - 7th Grade
10 questions
Common Denominators
Quiz
•
5th Grade