

Pendidikan Sepanjang Hayat
Presentation
•
Education
•
University
•
Easy
Nurfadilah Nurfadilah
Used 2+ times
FREE Resource
26 Slides • 7 Questions
1
2
3
4
Multiple Choice
SIAP!
SIAP
HARUS SIAP-
5
6
7
Delker (1974) mengemukakan bahwa pendidikan sepanjang hayat adalah perbuatan manusia secara wajar dan alamiah yang prosesnya tidak selalu memerlukan kehadiran guru, pamong, atau pendidik. Proses belajar tersebut mungkin tidak didasari oleh seseorang atau kelompok bahwa ia atau mereka telah atau sedang terlibat di dalamnya. Kegiatan belajar sepanjang hayat terwujud apabila terdapatdorongan pada diri seseorang atau kelompok untuk memenuhi kebutuhan belajar dan kepuasan, serta apabila ada kesadaran dan semangat untuk belajar selama hayat masih di kandung badan.
8
Gestrelius (1977) mengemukakan bahwa pendidikan sepanjang hayat mencakup interaksi belajar (pembelajaran), penentuan bahan belajar dan metode belajar, lembaga penyelenggara, fasilitas, administrasi, dan kondisi lingkungan yang mendukung kegiatan belajar berkelanjutan. Ke dalam pendidikan ini termasuk pula peranan pendidik dan peserta didik yang harus dan saling belajar, pengelolaan kegiatan belajar, dan faktor- faktor lainnya yang mendukung terjadinya proses belajar.
9
Arti luas pendidikan sepanjang hayat (Lifelong Education) adalah bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Pendidikan sepanjang hayat menjadi semakin tinggi urgensinya pada saat ini karena, manusia perlu menyesuaikan diri supaya dapat tetap hidup secara wajar dalam lingkungan masyarakatnya yang selalu berubah.
10
Dalam GBHN termaktub: “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”. Ini berarti bahwa setiap insan di Indonesia dituntut untuk selalu berkembang sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah harus menciptakan suasana atau iklim belajar yang baik, sebab pendidikan formal bukanlah satu- satunya tempat untuk belajar.
11
Pendidikan sepanjang hayat merupakan jawaban terhadap kritik-kritik yang dilontarkan pada sekolah. Sistem sekolah secara tradisional mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat dalam abad terakhir ini dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tuntutan-tuntutan manusia yang semakin meningkat. Pendidikan di sekolah hanya terbatas pada tingkat pendidikan sejak kanak-kanak sampai dewasa, tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dunia yang berkembang sangat pesat.
12
INGAT!
Dunia yang selalu berubah ini membutuhkan suatu sistem yang fleksibel. Pendidikan harus tetap bergerak dan mengenal inovasi secara terus-menerus. Melalui proses belajar sepanjang hayat inilah manusia mampu meningkatkan kualitas kehidupannya secara terus-menerus, mampu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan masyarakat yang diakibatkannya dan budaya untuk menghadapi tantangan masa depan, serta mau dan mampu mengubah tantangan menjadi peluang.
13
Ciri-ciri manusia yang menjadi pelajar sepanjang hayat (Cropley 1977:49):
Sadar bahwa dirinya harus belajar sepanjang hayat.
Memiliki pandangan bahwa belajar hal-hal yang baru merupakan cara logis untuk
mengatasi masalah.
Bersemangat tinggi untuk belajar pada semua level.
Menyambut baik perubahan.
Percaya bahwa tantangan sepanjang hidup adalah peluang untuk belajar hal baru.
14
Pendidikan sepanjang hayat juga mempunyai ciri-ciri, antara lain:
Pendidikan sepanjang hayat mampu menghilangkan tembok pemisah antara sekolah dengan lingkungan kehidupan nyata di luar sekolah.
Pendidikan sepanjang hayat mampu menempatkan kegiatan belajar sebagai bagian integral dari proses hidup yang berkesinambungan.
Pendidikan sepanjang hayat lebih mengutamakan pembekalan sikap dan metode dari pada isi pendidikan.
Pendidikan sepanjang hayat mampu menempatkan peserta didik sebagai individu yang menjadi pelaku utama dalam proses pendidikan.
15
Dasar-Dasar Pendidikan Sepanjang Hayat
Prinsip pendidikan manusia seutuhnya berlangsung seumur hidup didasarkan atas berbagai landasan yang meliputi:
Dasar-dasar filosofis
Filosofis hakikat kodrat martabat manusia merupakan kesatuan integral segi-segi:
Manusia sebagai makhluk pribadi(individualbeing).
Manusia sebagai makhluk sosial(sosialbeing).
Manusia sebagai makhluk susila (moralbeing).
16
Ketiga esensial ini merupakan potensi-potensi dan kesadaran yang integral yang dimiliki oleh setiap manusia serta menentukan martabat dan kepribadian seseorang. Yang artinya bahwa individu itu merealisaikan potensi-potensi tersebut secara optimal dan berkeseimbangan itulah wujud kejadiannya.
17
Dasar-dasar psikofisis
Merupakan dasar-dasar kejiwaan dan kejasmanian manusia. Realitas psikofisis manusia menunjukkan bahwa pribadi manusia merupakan kesatuan antara:
Potensi-potensi dan kesadaran rohaniah baik dari segi pikis, rasa, karsa, cipta, dan budi nurani.
Potensi-potensi dan kesadaran jasmaniah yang sehat dengan pancaindra yang normal secara fisiologis bekerjasama dengan sistem saraf dan kejiwaan.
Potensi-potensi psikofisis berada di dalam suatu lingkungan hidupnya, baik alamiah maupun sosial budaya.
18
Dasar-dasar sosio-budaya
Meskipun manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan namun manusia terbina pula oleh tata nilai sosio-budaya sendiri. Inilah segi-segi budaya bangsa dan sosio psikologis manusia yang wajar diperhatikan oleh pendidikan. Dasar-dasar segi sosio-budaya bangsa mencakup:
Tata nilai warisan budaya bangsa seperti nilai keutuhan, musyawarah, gotong- royong dan tenggang rasa yang dijadikan sebagai filsafat hidup rakyat.
Nilai-nilai filsafat Negara yakni pancasila.
Nilai-nilai budaya nasional, adat istiadat, dan lain-lain.
Tata kelembagaan dalam hidup kemasyarakatan dan kenegaraan baik bersifat formal maupun nonformal.
19
Tujuan Pendidikan Sepanjang Hayat
Tujuan pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup ialah:
Tujuan untuk pendidikan manusia seutuhnya dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin.
Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup. Adapun aspek pembawaan (potensi manusia), seperti: potensi jasmani (fisiologis dan pancaindera) dan potensi rohaniah (psikologis dan budi nurani).
Dengan adanya keseimbangan yang wajar antara potensi jasmani dan rohani, berarti kita mengembangkan keduanya secara utuh sesuai dengan kodrat kebutuhannya, akan dapat terwujud manusia seutuhnya.
20
Wadah Pendidikan Sepanjang Hayat
Pendidikan sepanjang hayat berwadahkan di semua lembaga pendidikan, sumber-sumber informasi, sesuai dengan kepentingan perseorangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, lembaga dari pendidikan sepanjang hayat adalah lembaga pendidikan yang selama ini kita kenal, yaitu:
Pendidikan sekolah
Pendidikan luar sekolah
Sumber informasi baik berupa terbitan buku, majalah, atau media massa seperti media cetak atau elektronik ataupun sajian dalam internet. Wadah pendidikan sepanjang hayat adalah semua lembaga pendidikan yang ada. Wadah mana yang dipakai, tergantung pada apa yang diperlukan oleh individu. Banyaknya pendidikan luar sekolah yang di awal Indonesia merdeka hanya kursus mengetik, steno, dan memegang buku (administrasi keuangan) kini sudah banyak sekali ragamnya dan kursus steno semakin surut jumlahnya karna hadirnya teknologi baru.
21
Implikasi Pendidikan Sepanjang Hayat
Sebagai satu kebijakan yang mendasar dalam memandang hakikat pendidikan
manusia dapat kita jelaskan segi implikasinya sebagai berikut:
Pengertian implikasi ialah akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan.
Segi-segi implikasi dari konsepsi pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup:
Manusia seutuhnya sebagai subyek didik atau sasaran didik,
Proses berlangsungnya pendidikan, yakni waktunya seumur hidup manusia.
22
Materi pendidikannya
Dengan mengingat potensi-potensi manusia seutuhnya itu (meliputi tujuh potensi), maka dapat dikembangkan wujud manusia seutuhnya itu dengan membina dan mengembangkan sikap hidup:
Potensi jasmani dan pancaindera, dengan mengembangkan sikap hidup sehat, memelihara gizi makanan, olah raga yang teratur, istirahat yang cukup, dan lingkungan hidup bersih.
Potensi pikir (rasional), dengan mengembangkan kecerdasan, suka membaca, belajar ilmu pengetahuan yang sesuai dengan minat, mengembangkan daya pikir yang kritis, dan obyektif.
23
Potensi perasaan,dengan mengembangkan perasaan etika dengan menghayati tata nilai Ketuhanan/keagamaan, kemanusiaan, sosial budaya, filsafat, dan perasaan estetika dengan mengembangkan minat kesenian dengan berbagai seginya, sastra, dan budaya.
Potensi karsa atau kemauan yang keras, dengan mengembangkan sikap rajin belajar/bekerja, ulet, tabah menghadapi segala tantangan, berjiwa perintis (kepeloporan), suka berprakarsa, termasuk hemat, dan hidup sederhana.
Potensi cipta,dengan mengembangkan daya kreasi dan imajinasi baik dari segi konsepsi-konsepsi pengetahuan maupun seni-budaya (sastra, puisi, lukisan, desain, dan model).
24
Potensi karya, konsepsi, dan imajinasi tidak cukup diciptakan sebagai konsepsi, semuanya diharapkan dilaksanakan secara operasional. Inilah tindakan, amal, atau yang nyata. Misalnya gagasan yang baik tidak cukup dilontarkan, kita berkewajiban merintis penerapannya.
Potensi budi nurani, kesadaran Ketuhanan, dan keagamaan, yakni kesadaran moral yang meningkatkan harkat dan martabat manusia menjadi manusia yang berbudi luhur, atau insan kamil, ataupun manusia yang takwa menurut konsepsi agama masing-masing.
Dengan mengembangkan ketujuh potensi itu melalui sikap positif dan mendasar maka akan mencapai kesinambungan.
25
Pendidikan sepanjang hayat diperlukan supaya meningkatkan persamaan distribusi pelayanan pendidikan, memiliki implikasi ekonomi yang menyenangkan, dan esensial dalam menghadapi struktur sosial yang berubah terdapat alasan-alasan kejuruan untuk menetapkannya akan menghantarkan peningkatan kualitas hidup. Gagasan dasarnya bahwa pendidikan harus dikonsepkan secara formal sebagai proses yang terus-menerus dalam kehidupan individu, mulai dari anak-anak sampai dewasa.
Di dalam tulisannya, Cropley, dengan memperhatikan masukan dari sebagian pemerhati pendidikan, mengemukakan beberapa alasan diperlukannya pendidikan sepanjang hayat, antara lain: alasan keadilan, ekonomi, faktor sosial, perkembangan iptek, dan sifat pekerjaan.
26
Open Ended
Menurut Cropley ada 5 alasan diperlukannya pendidikan sepanjang hayat, jelaskan alasan tersebut beserta contohnya!
(jawab siap!)
27
Open Ended
alasan 1 adalah . . . . .
28
Open Ended
alasan ke-2, adalah . . . . .
29
Open Ended
alasan ke-3, adalah . . . .
30
Open Ended
alasan ke-4, adalah . . . .
31
Open Ended
alasan ke-5, adalah . . . .
32
33
wassalam
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 33
SLIDE
Similar Resources on Wayground
28 questions
Pengembangan Program Supervisi Pendidikan
Presentation
•
University
24 questions
Kitchen Station
Presentation
•
University
24 questions
Filosifi KHD
Presentation
•
KG - University
26 questions
Medan Magnet
Presentation
•
University
28 questions
Pandangan Tokoh Pendidikan Dalam Negeri
Presentation
•
University
26 questions
BAB 1
Presentation
•
University
25 questions
Jurnal Penutup - PAP 12AKL
Presentation
•
12th Grade
21 questions
PROPOSAL PENELITIAN
Presentation
•
University
Popular Resources on Wayground
10 questions
Safety Day 2026 – Student Review
Quiz
•
9th Grade
21 questions
Continents and Oceans
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Parts of Speech
Quiz
•
5th Grade
16 questions
Subject & Predicate
Quiz
•
5th Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
12 questions
Map Skills
Quiz
•
3rd Grade
22 questions
Continents and Oceans
Quiz
•
5th Grade
15 questions
Rounding Decimals
Quiz
•
5th Grade